Senin, 22 November 2010
Puisi
Oleh: Abu Faqih
Terkadang, kita merasa begitu sombong dengan segala yang kita punya
begitu kuatnya rasa itu menguasai tubuh kita
Berjalan melalui aliran darah tanpa kita rasa
Menghilangkan kesadaran iman
Bahwa semua hanya titipan
Terkadang, rasa itu menyeruak dengan cepat
Dalam wujud omong kosong dan bualan
Meremehkan Sang Maha Pencipta
Berjejalan di dalam dada
Menghambat perjalanan panjang seorang anak manusia
Entah…
Sampai kapan kesempatan ada
Mengingatkan kita bahwa hidup di dunia ada batasnya
Dan manusia terjatah segalanya
Entah…
Sampai kapan kita mengenakan pakaian kesombongan
Menantang Sang Maha Kasih di depan nyala api
Sementara surga telah dijanjikan
dengan kesabaran, ketaatan, dan keikhlasan
Namun…
Manusia enggan berupaya
Ketamakkan telah merusak segalanya
Melahap apa saja yang bukan haknya
Kesombongan menjadi jati diri
Berdiri tegak menjejak manusia lain
Kesabaran menjadi sesuatu yang mahal
Ketaatan menjadi sesuatu yang aneh
Dan keikhlasan menjadi sesuatu yang lucu
Sesungguhnya Allah telah memberikan kita akal dan hati
Yang hanya kita jadikan sebagai pajangan berdebu
Nafsu menjadi mahkota
Mengaburkan cermin hati
Bayangan Allah tercecer entah dimana
Neraka dan surga hanya menjadi cerita kosong
Mati menjadi sesuatu yang harus dihindari
Agar dapat hidup abadi di tempat yang fana ini
Teruslah hidup hai kau sang penista
Sampai engkau dihadapkan pada sang pencabut nyawa
Tubuhmu akan tergetar
Peluhpun bercucuran
Karena tibanya hari pembalasan
Penyesalan tak akan pernah dapat menolongmu
Wahidin Raya, Jakpus, 23 November 2010
Kamis, 14 Oktober 2010
Rabu, 25 Agustus 2010
Keluarga Sakinah
Sebuah bangunan terdiri dari bata-bata, jika satu batubata hilang, maka bangunan itu tak hanya keindahannya yang hilang tapi juga kekuatannya.
Masyarakat adalah cerminan kondisi keluarga. Jika keluarga sehat berarti masyarakatnya juga sehat. Jika keluarga bahagia, masyarakat pun bahagia. Setidaknya, ada lima faktor untuk membentuk keluarga sakinah di antaranya sebagai berikut:
1. Dalam keluarga ada mawaddah dan rahmah.
Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang mengebu-gebu. Sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan melindungi yang dicintai. Mawaddah saja kurang menjamin kelangsungan rumah tangga. Sebaliknya, rahmah, tak cukup memeberikan garansi.
2. Hubungan antara suami istri harus atas berdasarkan saling membutuhkan.
Seperti pakaian dan yang memakainya “hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna”. (QS al Baqarah:187) Kalau kita kaji lebih dalam, fungsi pakaian setidaknya ada tiga; menutup aurat, melindungi diri dari panas dan dingin, serta sebagai perhiasan. Suami terhadap istri, juga harus memiliki fungsi yang sama.
Jika istri mempunyai sesuatu kekurangan, suami tidak menceritakan pada orang lain. Begitu juga sebaliknya. Jika istri sakit, suami segera mencari obat atau membawa ke dokter. Begitu juga sebaliknya. Istri harus selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan istri . Jangan terbalik, di luaran tampil menarik perhatian orang banyak. Tapi ketika di rumah, tampil tak sedap dipandang mata.
3. Suami istri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap patut (ma’ruf), tidak asal benar dan hak.
“Wa’a syiruhunna bil ma’ruf”. (QS. An Nisa : 19). Besarnya mahar, nafkah, cara bergaul dan sebagainya harus memperhatikan nilai-nilai ma’ruf . Hal ini terutama harus diperhatikan oleh suami istri yang berasal dari kultur yang menyolok perbedaannya.
4. Menurut hadits Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada empat, yaitu:
a). Memiliki kecendrungan kepada agama.
b). Yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda.
c). Sederhana dalam belanja.
d). Santun dalam bergaul dan selalu melakukan introspeksi.
5. Rasulullah juga bersabda tentang empat faktor yang menjadi sumber kebahagiaan keluarga.
a). Suami dan istri yang setia.
b). Shalih dan shalihah.
c). Anak-anak yang berbakti pada orangtuanya.
d). Lingkungan sosial yang sehat dan rezeki yang dekat.
Hari demi hari tak boleh berlalu begitu saja. Anak sebagai buah cinta kita, tumbuh dan berkembang. Langkah kita hari ini menentukan masa depannya. Semoga mereka bisa menjadi pewaris yang kita dambakan. Selama kita setia pada lima hal di atas, insya Allah pertolongan Allah akan selalu menaungi kelurga kita. Amin.
Sumber: www.scribd.com
Waspadai Tasyabuh
WASPADAI PERBUATAN TASYABUH/MENYERUPAI NON MUSLIM
Penulis: Al-Ustadz Abu Musa Saifuddin Zuhri Lc
Manhaj, 23 Desember 2004, 04:15:22
Sesungguhnya setiap muslim telah dibimbing untuk senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini sebagaimana doa yang selalu dilantunkan dalam shalat yakni saat membaca surat Al-Fatihah.
Surat tersebut mengandung permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar bisa berpegang dengan ajaran Islam secara benar dan dijauhkan dari mengikuti jalan Yahudi dan Nashara. Namun barangkali karena tidak memahami apa yang terkandung dalam doa yang dibaca atau tidak menghadirkan hati ketika membacanya, maka kita melihat sebagian kaum muslimin banyak yang terjatuh dalam perbuatan meniru-niru orang kafir.
Diantara bentuk meniru-niru orang kafir yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin adalah sebagai berikut:
1. Mengeramatkan kuburan/makam tertentu, mengagungkan orang-orang shalih secara berlebihan, serta menjadikan kuburan mereka sebagai masjid, yaitu dengan melakukan berbagai bentuk ibadah di atasnya atau dengan mengubur seseorang di masjid.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjelaskan: “Dan di antara perbuatan bid’ah dan perkara yang mengantarkan pada perbuatan syirik adalah apa yang dilakukan di sekitar kuburan berupa shalat, membaca Al Qur’an, dan membangun masjid atau bangunan kubah di atasnya. Ini semua adalah bid’ah dan kemungkaran, serta menghantarkan pada syirik besar.
Oleh karena itu, telah datang hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:
لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيآئِهِمْ مَسَاجِدَ (متفق عليه)
“Allah melaknat Yahudi dan Nashara yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Kemudian setelah menyebutkan hadits lain yang semakna dengan hadits di atas, beliau rahimahullah menyatakan:
“Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan dalam dua hadits ini dan hadits-hadits lainnya yang semakna dengan kedua hadits tersebut bahwasanya Yahudi dan Nashara menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid. Maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan umatnya untuk tidak meniru-niru mereka dengan menjadikan kuburan sebagai masjid. Seperti shalat, i’tikaf, dan membaca Al Qur’an di kuburan, karena semua itu termasuk dari perkara-perkara yang akan menyebabkan kesyirikan. Termasuk dalam perkara ini adalah membuat bangunan di atas kuburan, membangun kubah, serta memberikan kain kelambu di atasnya. Maka semua itu adalah hal-hal yang menyebabkan kesyirikan dan berlebih-lebihan terhadap yang dikubur. Sebagaimana hal tersebut telah terjadi di kalangan Yahudi dan Nashara dan juga orang-orang bodoh dari umat sekarang ini” (Fatawa Muhimmah Tata’allaq Bil ‘Aqidah, hal. 14-15).
2. Merayakan perayaan-perayaan yang tidak ada dalam Islam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memuji orang-orang yang tidak menyaksikan perayaan orang-orang kafir sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya:
وَالَّذِيْنَ لاَيَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَ
“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan az-zuur.” (Al-Furqan: 72)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata tentang tafsir ayat tersebut: “Dan sungguh telah berkata lebih dari satu orang dari kalangan salaf tentang firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَالَّذِيْنَ لاَيَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَ
Mereka mengatakan (tentang makna az-zuur) yaitu hari-hari raya orang kafir. (Majmu Fatawa, 25/331).
Maka tidak boleh bagi kaum muslimin untuk menghadiri perayaan orang-orang kafir terlebih merayakannya.
Dan termasuk dalam hal ini adalah menjadikan hari raya mereka sebagai hari libur, seperti mengkhususkan hari Sabtu dan Ahad sebagai hari libur.
Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Arab Saudi) menyebutkan dalam fatwanya: “Tidak boleh mengkhususkan hari Sabtu atau Ahad sebagai hari libur, atau menjadikan keduanya sebagai hari libur karena hal itu termasuk meniru-niru orang Yahudi dan Nashara. Karena sesungguhnya Yahudi meliburkan hari Sabtu dan Nashara meliburkan hari Ahad dalam rangka memuliakan kedua hari tersebut…” (Fatawa Al-Lajnah, 2/75).
Kemudian lebih rinci Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan: “Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk meniru-niru mereka dalam hal-hal yang dikhususkan untuk perayaan-perayaan mereka. Tidak pula dalam makanan, pakaian, mandi, menyalakan api, meliburkan kebiasaan bekerja atau beribadah, atau yang selainnya. Dan tidak boleh untuk mengadakan pesta, memberikan hadiah, atau menjual sesuatu yang membantu dan bertujuan untuk acara tersebut. Serta tidak boleh membiarkan anak-anak kecil atau yang seusianya untuk bermain-main kaitannya dengan perayaan tersebut dan tidak boleh memasang hiasan (menghiasi rumah/ tempat tertentu dalam rangka menyemarakkan perayaan tersebut, pent).” (Majmu’ Fatawa, 25/329)
Namun sangat disayangkan masih banyak di antara kaum muslimin yang meniru-niru perayaan mereka. Bahkan ada yang ikut serta merayakan hari raya mereka. Di antaranya ada yang memberikan ucapan selamat atau ikut meramaikannya dengan berbagai acara seperti meniup terompet pada malam tahun baru dan yang semisalnya. Serta memasang hiasan-hiasan di rumahnya pada saat perayaan mereka.
Selanjutnya termasuk dalam hal ini adalah memperingati hari kelahiran seseorang baik itu memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam (perayaan Maulud Nabi) atau hari kelahiran lainnya. Begitu pula merayakan peristiwa-peristiwa tertentu seperti Isra’ Mi’raj, awal tahun baru Hijriyyah, serta merayakan hari atau pekan tertentu sebagai hari khusus untuk beramal seperti hari ibu, pekan kebersihan, dan sebagainya.
Ini bukan berarti kaum muslimin mengabaikan serta tidak mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan kaum muslimin senantiasa dituntut untuk selalu mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bermanfaat dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun (hal ini dilarang) karena perayaan adalah salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh dikhususkan dengan dilakukan secara berulang-ulang (ditradisikan, red) kecuali ada perintah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala atau Rasul-Nya.
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan: “…Dan perbuatan ini (perayaan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, pent) tidak pernah dilakukan pada masa-masa terbaik umat ini, akan tetapi ini hanyalah perbuatan yang diada-adakan pada abad ke-6 Hijriyah dalam rangka mengikuti Nashara yang merayakan hari kelahiran Al-Masih 'alaihissalam Dan sungguh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang dari meniru-niru mereka.” (Al-Khuthab Al-Mimbariyyah, hal. 89)
Jika orang-orang terbaik dari umat ini tidak melakukannya, lalu apa yang menyebabkan seseorang melakukannya? Apakah dirinya merasa lebih tahu dan lebih tinggi ilmunya dari para shahabat? Ataukah dia menganggap para shahabat lebih tahu namun mereka tidak mau mengamalkan ilmunya? Sungguh betapa jelasnya kesesatan yang ia lakukan.
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah juga menyatakan:“Dan termasuk mengikuti mereka (orang-orang kafir, pent) di dalam perayaan-perayaan baik yang bersifat syirik ataupun bid’ah adalah seperti memperingati perayaan-perayaan hari kelahiran, baik kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan kelahiran para pemimpin atau penguasa. Dan kadang-kadang perayaan-perayaan yang sifatnya syirik dan bid’ah ini diberi nama dengan penyebutan hari-hari atau pekan-pekan. Seperti hari kemerdekaan, hari ibu, atau pekan kebersihan.” (Al-Khuthab, hal. 43)
3. Menggunakan kalender Masehi (kalender orang kafir) dan meninggalkan kalender Islam (Hijriyyah)
Sebagian besar kaum muslimin saat ini hampir tidak lepas dari kalender Masehi. Bahkan sebagian mereka nampak tidak peduli dengan kalender Hijriyyah. Terbukti, ketika ditanya kepada sebagian saudara-saudara kita kaum muslimin tentang bulan hijriyyah, maka banyak di antara mereka yang tidak hafal atau tidak mengetahuinya. Padahal penggunaan kalender hijriyyah sangat penting, karena banyak berhubungan dengan amalan ibadah seperti puasa wajib dan sunnah, ibadah haji, dan lainnya.
Al-Lajnah Ad-Daimah dalam fatwanya berkenaan seputar tahun 2000 M menyebutkan: “Kemuliaan bagi kaum muslimin adalah berpegangnya mereka dengan kalender hijrah Nabi mereka Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana shahabat telah menyepakatinya. Mereka menggunakannya sebagai kalender tanpa ada perayaan (tahun baru, pent) dan kaum muslimin telah mewarisinya 14 abad setelah mereka sampai hari ini. Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk berpaling dari kalender Hijriyyah dan mengambil kalender lainnya yang digunakan manusia seperti kalender masehi. Hal itu berarti telah meminta ganti sesuatu yang lebih baik dengan sesuatu yang lebih buruk.”
4. Meniru-niru aturan, kebiasaan, serta akhlak orang kafir.
Semestinya seorang muslim selalu berpegang kuat dengan agamanya dalam seluruh aspek kehidupannya baik akidah, tata cara beribadah, aturan-aturan pergaulan, akhlak, maupun kebiasaannya. Namun masih banyak dari kaum muslimin yang kurang memperhatikan masalah ini. Maka tentunya hal ini menunjukkan lemahnya iman. Mereka tidak tahu bahwa dirinya telah tertipu dengan meninggalkan ajaran yang mulia dan mengambil ajaran yang rendah dan hina.
Di antara bentuk-bentuk meniru orang kafir dalam masalah ini seperti:
a). Menggunakan aturan sosialis, sekuler, demokrasi, dan yang semisalnya dari aturan-aturan tata negara yang dibuat orang kafir. Demikian pula dalam sistem ekonomi seperti sistem riba dan sebagainya. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Termasuk bentuk meniru-niru orang kafir adalah menjalankan aturan-aturan dan perundang-undangan orang kafir. Atau ajaran-ajaran yang berbahaya seperti ajaran sosialis dan ajaran sekuler yang membedakan antara agama dan pemerintahan, serta yang lainnya dari hukum, aturan ekonomi, dan aturan lainnya...” (Al-Khuthab, 2/168)
b). Berbangga diri dengan menggunakan bahasa orang kafir atau menggunakannya tanpa ada kebutuhan.
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Dan termasuk dalam bentuk meniru-niru orang kafir adalah bercakap-cakap dengan bahasa orang-orang kafir pada kebutuhan yang tidak mendesak. Serta menulis dengan bahasa mereka di tempat-tempat berjualan di negara kaum muslimin. Atau mencampur kalimat dan istilah-istilah dari bahasa mereka di dalam buku-buku Islam dan karya-karya lainnya.” (Al-Khuthab, 2 / 168)
c). Mencukur jenggot dan membiarkan kumis memanjang, serta menggunakan pakaian yang meniru-niru mereka dengan bentuk model yang tidak menutup aurat baik karena bentuknya yang ketat ataupun yang tipis kainnya (lihat Al-Khuthab, 1/102-104). Dan sebenarnya masih banyak sekali yang lainnya, yang tidak bisa kita sebutkan dalam kesempatan ini karena terbatasnya tempat.
d). Tidak menyukai tersebarnya kebenaran, dan hasad terhadap ilmu serta keutamaan yang Allah berikan kepada ahlul ilmi, dan berbagai akhlak jelek lainnya.
Di dalam kitab Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah menyebutkan beberapa akhlak Yahudi yang banyak ditiru oleh sebagian kaum muslimin. Diantaranya:
1) Mereka hasad terhadap hidayah dan ilmu yang Allah SWT berikan kepada kaum muslimin.
2) Mereka menyembunyikan ilmu, baik karena bakhil yaitu agar selain mereka tidak mendapatkan keutamaan, atau karena takut akan dijadikan hujjah untuk membuktikan kesalahan mereka.
3) Mereka tidak mengakui kebenaran kecuali apa yang sesuai dengan kaum mereka.
4) Mereka merubah Kalam Allah Subhanahu wa Ta'ala baik lafadz ataupun maknanya.(Lihat Al-Iqtidha, 1/83-88)
Demikianlah secara ringkas sebagian kecil dari bentuk-bentuk tasyabbuh bil kuffar.
Sesungguhnya masih banyak yang belum disebutkan karena sedikitnya ilmu dan lembar yang terbatas. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa berpegang dengan ajaran Islam dan diselamatkan dari segala bentuk meniru-niru orang kafir.
Karena seorang muslim semestinya tahu bahwa tidak ada agama yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali agama Islam, dan bahwa agama ini telah menghapus agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Sehingga kalau agama yang benar yang dibawa oleh para rasul saja dihapus dengan datangnya agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini, lalu bagaimana dengan agama yang sudah berubah sebagaimana agama Yahudi dan Nashara yang ada sekarang ini? Maka tentunya sangatlah tercela perbuatan orang-orang yang meniru-niru orang kafir.
Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.
(Dikutip dari majalah asy Syariah vol I/No 11/1425 H/2004, judul asli Bentuk-Bentuk Tasyabbuh, penulis Al-Ustadz Abu Musa Saifuddin Zuhri Lc, rubrik Kajian Utama. URL sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=206)
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=826
Selasa, 03 Agustus 2010
Anakku
ANAKKU
ANAKKU…
TAK BANYAK YANG KAMI MINTA DARIMU
TAK BANYAK YANG KAMI HARAPKAN DARIMU
KAMI HANYA MEMINTA DAN BERHARAP KALIAN MENJADI SEORANG SAHABAT
DIMANA TAK ADA SEKAT AMARAH DAN BENCI YANG MEMISAHKAN KITA
TAK ADA MURAM DAN RESAH YANG MEMBUAT KITA TAK SALING MENYAPA
ANAKKU…
KETIKA TULANG-TULANG INI TELAH RAPUH DIMAKAN USIA
KETIKA TUBUH INI TAK MAMPU TEGAK KARENA DIHINGGAPI PENYAKIT
SATU YANG TAK AKAN BERUBAH ANAKKU…
KAMI AKAN SELALU MENYAYANGI DAN MENCINTAI KALIAN
TAK BERKURANG SEDIKITPUN SEJAK KALIAN DILAHIRKAN
SAMPAI MATA KAMI TERPEJAM UNTUK SELAMANYA
ANAKKU…
JANGAN ENGKAU PALINGKAN WAJAHMU
SAAT KAMI INGIN MEMANDANG MATAMU
JANGAN ENGKAU TEPISKAN TANGANMU
SAAT KAMI INGIN MENGGENGGAM JARIMU
JANGAN ENGKAU PERGI DAN BERLALU
SAAT KAMI INGIN MEMELUK TUBUHNMU
KARENA SEMUA ITU HANYA AKAN MEMBUAT KAMI SEDIH
ANAKKU…
SAAT KAKI INI BERGETAR KETIKA MELANGKAH
SAAT TANGAN INI TAK MAMPU LAGI MELAMBAI
SAAT MATA INI TAK MAMPU LAGI MEMANDANG KEINDAHAN WAJAHMU
HANYA DO’AMU YANG AYAH DAN BUNDA HARAPKAN
PANJATKANLAH DO’AMU ANAKKU!
AGAR DAPAT TERHAPUS DOSA-DOSA INI
AGAR TENANG TIDUR KAMI DI ALAM BARZAH
AGAR KAMI PEROLEH RUMAH NAN INDAH DI JANNATUN NA’IM
Kamis, 25 September 2008
Adil Membagi Waktu
"Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang diberi umur panjang dan jelek amalnya." (HR Ahmad)
Saudaraku, Islam sangat menaruh perhatian terhadap waktu. Dalam Alquran, bertebaran ayat-ayat yang berhubungan dengan waktu. Bahkan, berkali-kali Allah SWT bersumpah atas nama waktu. Misalnya di awal QS Al-Ashr [103], Al-Lail [92], Adh-Dhuha [93], dsb. Hal ini menandakan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Maka tak usah heran bila Islam mengingatkan kita akan waktu minimal lima kali sehari semalam. Belum lagi anjuran untuk menghidupkan waktu disepertiga malam terakhir, waktu dhuha (saat matahari sepenggalahan).
Mengingat pentingnya waktu, maka kita layak bertanya, sejauh mana komitmen kita terhadap waktu? Bila kita termasuk orang yang meremehkan waktu, tidak kecewa saat pertambahan waktu tidak menghasilkan peningkatan kualitas diri, maka bersiap-siaplah menjadi pecundang dalam hidup.
Kita ini telah, sedang, dan akan selalu berpacu dengan waktu. Satu desah nafas sebanding dengan satu langkah menuju maut. Alangkah ruginya manakala banyaknya keinginan, melambungnya angan-angan, serta meluapnya harapan tidak diimbangi dengan meningkatnya kualitas diri. Maka, siapapun yang bersungguh-sungguh mengisi waktunya dengan kebaikan, niscaya Allah akan memberikan yang terbaik bagi orang tersebut.
Kunci efektivitas waktu
Efektivitas penggunaan waktu sangat dipengaruhi keterampilan kita dalam membaginya. Ada hak belajar, hak bekerja, hak tubuh, hak keluarga, hak ibadah juga hak evaluasi diri. Semuanya harus dibagi secara adil. Sibuk dan hebatnya belajar tanpa disertai istirahat dan ibadah misalnya, hanya akan mendatangkan masalah.
Mahasiswa yang akan mengikuti ujian misalnya. Waktunya tinggal tiga bulan lagi. Maka menjadi keharusan baginya untuk membuat perencanaan. Sehari belajar berapa jam? Katakanlah belajar 2 jam. Seminggu mau berapa kali belajar? Enam kali. Berarti 12 jam perminggu atau 48 jam perbulan. Jadi, dalam tiga bulan ia harus belajar minimal 144 jam. Lalu, mata kuliahnya ada 10. Satu mata kuliah rata-rata lima bab dan satu bab sepuluh halaman, berarti 50 X 10 = 500 halaman. Sedangkan waktu yang dimiliki hanya 144 jam. Dengan demikian, dalam satu jam ia harus menguasai minimal tiga lembar.
Kuncinya, kita harus memetakan dulu potensi dan masalahnya. Lalu bergerak dengan acuan peta tersebut. Setelah itu kita disiplin menjalankannya. Sebab banyak orang yang hanya pandai membuat rencana, tapi kurang pandai menjalankannya. Karena itu, sebuah rencana tidak perlu muluk-muluk. Buatlah secara proporsional dan fleksibel agar kita mudah menjalankannya.
Menunda pekerjaan
Ada satu kebiasaan yang akan menghambat efektivitas dan optimalisasi waktu yang kita miliki, yaitu kebiasaan menunda. Hebatnya, sebagian orang merasa bahwa menunda pekerjaan itu akan lebih baik. Padahal kebiasaan menunda hampir pasti mengundang masalah bila tidak didasarkan pada perhitungan matang.
Dalam setiap waktu ada kewajiban yang harus kita tunaikan. Andaikan kita tunda maka pekerjaan lain pasti akan menyusul, sehingga pekerjaan makin menumpuk. Akhirnya, banyak energi, waktu dan biaya yang terbuang percuma selain berpeluang memunculkan rasa enggan untuk mengerjakannya.
Contohnya ada seorang pelajar yang akan menghadapi ujian. Dalam hati ia berkata, "Saya akan belajar nanti malam saja supaya lebih tenang". Ketika malam datang ia berkata lagi, "Ah nanti saja menjelang hari H saya akan belajar mati-matian". Saat malam hari H tiba muncul lagi alasan, "Agar lebih masuk, saya akan belajar nanti Subuh". Apa yang terjadi? Subuhnya terlambat dan ia pun bangun kesiangan dan telat masuk ruang kelas.
Ada sebuah nasihat dari Imam Hasan Al-Bashri yang layak kita renungkan. "Waspadalah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini bukan pada hari esok. Kalaulah esok hari menjadi milikmu, maka jadilah kamu seperti pada hari ini. Kalau esok tidak menjadi milikmu, niscaya kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu dari harimu". Wallaahu a'lam.
(KH Abdullah Gymnastiar )Kamis, 18 September 2008
Riwayat 3 Orang Bani Israil
Malaikat tersebut menemui penderita kusta (yang berkulit belang) dan bertanya,"Apa yang paling kamu sukai?" Dia menjawab,"Warna yang bagus dan kulit yang mulus, karena orang jijik melihatku." Maka malaikat tersebut mengusapnya sehingga penyakitnya hilang. Dia diberi warna yang bagus dan kulit yang mulus seperti semula. Malaikat itu bertanya lagi,"Apa harta yang paling kamu sukai?" Dia menjawab,"Onta." Maka dia diberi onta yang bunting dan malaikat tersebut berkata,"Semoga engkau diberkahi dengan onta ini."
Berikutnya malaikat itu menemui orang yang berkepala botak dan bertanya,"Apa yang paling kamu sukai?". Dia menjawab,"Rambut yang bagus dan hilangnya botakku ini, karena orang-orang jijik melihatku." Maka malaikat tersebut mengusapnya sehingga botaknya hilang. Dia diberi rambut. Malaikat bertanya lagi,"Apa harta yang paling kamu sukai?". Dia menjawab,"Sapi." Maka malaikat memberinya seekor sapi bunting dan berkata,"Semoga engkau diberkahi dengan sapi ini."
Kemudian onta, sapi dan kambing tersebut beranak dan berkembang biak sehingga jumlahnya memenuhi lembah. Malaikat kemudian mendatangi penderita kusta yang telah sembuh dengan menyamar sebagai penderita kusta. Malaikat itu mengatakan,"Saya seorang miskin. Saya berjalan cukup jauh dengan naik turun gunung. Sekarang saya tidak memiliki tumpuan harapan kecuali kepada Allah, kemudian kepadamu. Dengan nama Allah yang telah memberimu warna dan kulit yang bagus serta harta, saya minta kepadamu seekor onta untuk bekal perjalanan saya". Penderita kusta yang telah disembuhkan itu menjawab,"Kewajibanku sangat banyak (saya tidak mengabulkan permintaanmu)". Malaikat itu mengatakan,"Sepertinya saya mengenalmu, bukankah kamu dulu menderita kusta yang dipandang jijik oleh orang lain serta menjadi orang miskin, kemudian Allah memberimu anugerah seperti sekarang ini?". Dia mengatakan,"Aku mewarisi harta ini dari nenek moyangku." Malaikat berkata,"Jika kamu berdusta, Allah akan mengembalikanmu seperti semula."
Berikutnya malaikat mendatangi penderita botak yang telah sembuh dengan menyamar sebagai orang botak dan berkata sebagaimana yang dikatakan kepada penderita kusta. Penderita botak yang telah disembuhkan itu pun menolak permintaan malaikat sebagaimana penolakan bekas penderita kusta. Kemudian malaikat mengatakan,"Jika kamu berdusta, maka Allah akan mengembalikanmu seperti semula."
Kemudian malaikat tersebut mendatangi si buta yang telah disembuhkan dengan menyamar sebagai orang buta. Malaikat berkata,"Saya seorang miskin. Saya menempuh perjalanan cukup jauh dengan naik turun gunung. sekarang tumpuan harapan saya tiada lagi kecuali kepada Allah, kemudian kepadamu. Demi nama Allah yang telah mengembalikan penglihatanmu, saya minta seekor kambing kepadamu untuk bekal perjalanan saya."Si buta yang telah disembuhkan tersebut menjawab,"Dulu saya buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatan saya dan dulu saya miskin, kemudian Allah memberi saya kekayaan. Silahkan ambil sesukamu. Demi Allah, saya tidak merasa berat sedikitpun atas harta saya yang kau ambil karena Allah." Kemudian malaikat berkata,"Tidak usah kau berikan hartamu, karena semua ini hanyalah ujian. Allah benar-benar meridhoimu dan memurkai dua orang temanmu."
Subhanallah, akhirnya si bekas penderita kusta dan si bekas penderita botak atas kuasa Allah SWT dikembalikan seperti semula yaitu menderita penyakit kusta dan menderita penyakit botak serta dalam keadaan miskin. Sedangkan, si bekas penderita buta dapat hidup bahagia dengan seluruh hartanya yang selalu digunakan di jalan Allah sebagi wujud rasa syukurnya atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ini.
Sumber: Imam Az-Zabidi. "Ringkasan Hadis Shahih Al-Bukhari". Penerbit Pustaka Amani Jakarta.